Geger Listrik Jakarta Padam, Jadi Ingat Pedalaman Papua

Geger Listrik Jakarta Padam, Jadi Ingat Pedalaman Papua

Geger Listrik Jakarta Padam, Jadi Ingat Pedalaman Papua

Warga Jakarta dibuat kelimpungan dengan matinya listrik

berjam-berjam pada Minggu (4/8) kemarin. Di Papua sana, ada mereka yang masih hidup tanpa listrik.

Pemadaman massal terjadi di wilayah Jabodetabek sampai Bandung pada Minggu (4/8). Dimulai dari siang hari sekitar pukul 11.00 WIB, listrik padam ditambah jaringan telepon seluler pun mati.

Berjam-jam listrik mati, sampai-sampai transportasi umum macam kereta api dan MRT ikut lumpuh. Ada yang baru 8 jam menyala, bahkan ada juga sampai 10 jam lebih. Malah hari ini, Senin (5/8/2019) ada lagi pemadaman massal bergilir.

Matinya listrik, membuat warga Jakarta kelimpungan. Bukan begitu?

Kemarin saat mati listrik, saya berdiam sejenak

Merasakan gelapnya malam yang sunyi, sesekali terdengar suara orang saring bercengkrama. Ah rasanya sulit sekali melihat teman-teman sekomplek saling berbincang dan menghabiskan waktu bersama, karena kerap kali mereka berdiam diri di rumah dan berselancar di media sosialnya.

Saat itu pula, pikiran saya menuju ke Ugimba. Suatu desa di Kabupaten Intan Jaya, di kaki Pegunungan Jayawijaya, Papua yang sulit ditempuh. Desa di tengah hutan belantara yang dihuni suku Moni dan tanpa listrik!

Sekitar tahun 2015, saya mendatangi Desa Ugimba dalam rangkaian Ekspedisi Jurnalis ke Carstensz. Untuk menuju ke sana, dari Timika naik pesawat perintis dan mendarat di Sugapa. Selanjutnya, jalan kaki 16 jam menembus hutan rimba.

Penerbangan ke Sugapa kadang ada kadang tidak ada

Itu tergantung dari cuaca, yang jika berkabut tebal dan ekstrem maka sulit dilalui. Sebenarnya bisa sih dari Timika ke Ugimba, tapi harus jalan kaki 3 hari lamanya.

Desa Ugimba pun masuk dalam trek pendakian ke Puncak Carstensz. Puncak tertinggi di Indonesia dengan ketinggian 4.884 mdpl dan masuk dalam Seven Summit dunia.

Desa Ugimba berada di ketinggian 2.100 mdpl. Sungguh sejuk, hijau dan panoramanya indah. Sejauh mata memandang hanya pepohonan dan perbukitan, sesekali rumah honai alias rumah tradisional orang Papua.

Medan ke sana yang sulit dan bak dipagari perbukitan, membuat sulit pembangunan listrik dan sinyal telepon. Alhasil, saya pun merasakan bagaimana rasanya hidup tanpa listrik dan sinyal telepon.

Kalau di siang hari, tampaknya tak masalah

Saya bisa ikut mengambil air ke sungai, menanam ubi bersama mama-mama, ikut melihat para pria berburu dan berbincang dengan anak-anak mudanya.

Aktivitas suku Moni di Desa Ugimba yakni pergi berburu bagi para pria di pagi hari dan pergi ke ladang bagi wanitanya. Anak-anaknya, yang pria ikut bapaknya dan yang wanita ikut mamanya. Ke mana-mana, ya jalan kaki.

Saat masuk siang hari, para pria akan kembali ke rumah untuk makan siang. Para mama menyiapkan makanan yang dibakar dengan bebatuan dan jerami. Tidak ada sendok dan garpu apalagi piring. Meski begitu, ubinya enak lho!

Beres makan siang, mereka semua kembali pada aktivitasnya masing-masing. Barulah ketika mulai senja, sekitar pukul 5 sore, semua kembali ke rumah.

Sayup-sayup bunyi serangga mulai terdengar, saat matahari tenggelam. Hembusan angin sudah terasa dingin. Selamat malam Ugimba yang tanpa cahaya lampu.

Ketika malam, semua warga tinggal di dalam rumah. Meski cahaya bulan cukup terang, tapi masuk ke dalam hutan saat malam adalah risiko besar. Bisa-bisa celaka terpeleset masuk jurang atau cedera.

Sungguh-sungguh tenang nan syahdu. Tanpa cahaya lampu, tanpa suara kendaraan, hanya suara alam yang terdengar di malam hari.

Suku Moni di Desa Ugimba pun sudah tidur lelap sejak pukul 7 malam. Tidak ada yang begadang atau keluyuran. Mereka beristirahat, untuk kembali mengisi tenaga untuk esok hari.

Saya hanya terdiam, merasakan suasana yang jarang saya rasakan tiap hari. Merasakan malam tanpa cahaya lampu, tanpa listrik dan tanpa bunyi notification di ponsel.

Guanus dan Malama, suku Moni asli yang jadi pemandu wisata saya sudah tertidur lelap. Bahkan masih pukul 9 malam, kalau kata orang Jakarta ‘masih pagi’.

Pagi hari, begitu matahari terbit, warga Desa Ugimba juga bangun. Mereka kembali bersiap-siap untuk beraktivitas seperti hari-hari sebelumnya. Segar juga rasanya badan ini, tidak tidur larut malam.

Saat Jakarta mati listrik (kapan pun itu), pikiran saya pasti selalu mengingat Ugimba. Tapi apakah sampai selamanya mereka, saudara sebangsa kita di sana, hidup tanpa listrik seperti itu?


Baca Artikel Lainnya: