Masa Pemerintahan Kerajaan Demak

Masa Pemerintahan Kerajaan Demak

Masa Pemerintahan Kerajaan Demak

Pada saat Majapahit telah mengalami kemunduran secara langsung wilayah kekuasaannya mulai dapat memisahkan diri. Begitu juga dengan Demak yang juga memisahkan diri dari wilayah Majapahit, dengan mendirikan kerajaan sendiri yaitu Kerajaan Demak. Pada saat memisahkan dari Kerajaan Majapahit Kerajaan Demak yang dikenal sebagai kerajaan Islam, mulai dapat berkreasi dengan sepenuhnya, sampai mendapatkan sebuah kejayaan. Kerajaan Demak secara geografis terletak di Jawa Tengah dengan pusat pemerintahannya di daerah Bintoro di Muara sungai Demak, yang dikelilingi oleh daerah rawa yang luas di perairan Laut Muria. Bintoro sebagai pusat Kerajaan Demak terletak antara Bergola dan Jepara, dimana Bergola adalah pelabuhan yang penting pada masa berlangsungnya Kerajaan Mataram (Wangsa Syailendra), sedangkan Jepara akhirnya berkembang sebagai pelabuhan yang penting bagi Kerajaan Demak.

Kerajaan Demak

Kerajaan Demak telah menjadi Kerajaan Islam yang mencapai kejayaannya pada tahun 1511 yang dibawah pimpinan Raden Pattah, lalu pada tahun 1513 Kerajaan Demak sudah berani dalam memimpin suatu armada yang menggempur Malaka untuk mengusir orang Portugis. Sayang bahwa usaha ini gagal; armada Portugis lebih unggul (Soekmono,R, 1959:50).

Masa Kejayaan tersebut didapatkan karena dibawah pimpinan Raden Pattah yang dapat memimpin dengan baik. Berbagai usaha yang dilakukan selalu berbuah dengan baik dan memuskan.tetapi kejayaan tersebut sangatlah cepat, karena pada tahun 1518 Raden pattah meninggal dunia.

Kesultanan yaitu Kesultanan Demak

Dalam masa ini juga terdapat Kesultanan yaitu Kesultanan Demak atau juga disebut dengan Kesultanan Demak Bintara adalah kesultanan Islam pertama di Jawa yang didirikan oleh Raden Pattah pada tahun 1478. Kesultanan ini sebelumnya merupakan Kadipatian (kadipaten) dari Kerajaan Majapahit, dan tercatat menjadi pelopor penyebaran agama Islam di Pulau Jawa dan Indonesia pada umumnya. Kesultanan Demak tidak berumur panjang dan segera mengalami kemunduran karena terjadi perebutan kekuasaan diantara kerabat Kerajaan. Pada tahun 1568, kekuasaan Kesultanan Demak beralih ke Kesultanan Demak ialah Masjid agung Demak, yang diperkirakan didirikan oleh Walisongo. Lokasi Ibukota Kesultanan Demak, yang pada masa itu masih dapat dilayari dari laut dan dinamakan Bintara, saat ini telah menjadi kota Demak di Jawa Tengah. Pada masa Sultan ke-4 ibukota dipindahkan ke Prawata.

2.3 Kemunduran Kerajaan Demak

            Awal dari kemunduran Kerajaan Demak adalah saat Raden Patah meninggal dunia. Lalu yang menggantinya sebagai sultan adalah Pati Unus.[7] Tidaklah lama Pati Unus dalam mengganti Raden Patah menjadi Sultan, karena Pati Unus 3 tahun kemudian beliau meninggal dunia. Pengganti dari Pati Unus adalah saudara dari beliau sendiri yaitu Pangeran Trenggana, beliau adalah orang yang giat juga seperti Sultan-sultan sebelumnya dalam menegakkan agama Islam dan memajukan Kerajaan Demak. Tetapi hal tersebut tidaklah lama, karena setelah Sultan Trenggono meninggal yang mungkin terjadi pada tahun 1546, Sultan Trenggono meninggal pada saat berusaha dalam menaklukan Pasuruan, tetapi gagal. Lalu setelah Sultan Trenggono meninggal, di Kerajaan Demak timbul kegoncangan politik yang menyebabkan pembunuhan di kalangan keluarga sultan itu sendiri (Departemen Pedidikan dan Kebudayaan, SNI3, 1975:321).

            Sebelum Sultan Trenggana meninggal, adapun hal-hal yang dilakukannya untuk Kerajaan Demak, yang disebutkan oleh R. Soekmono adalah

  1. Seorang terkemuka dari pase, bernama Fatahillah, yang sempat melarikan diri dari kepungan orang-orang Portugis, diterima oleh Trenggono dengan kedua belah tangan. Fatahillah ini bahkan ia kawinkan dengan adik sang raja sendiri dan ia ternyata adalah orang yang dapat melaksanakan maksud-maksud Trenggono, yaitu berhasil menghalangi kemajuan Portugis dengan merebut kunci-kunci perdagangan Kerajaan Pajajaran di Jawa Barat.
  2. Trenggono berhasil menaklukan Mataram di pedalaman Jawa Tengah, dan juga Singhasari di Jawa Timur bagian selatan.

Sumber : https://ngelag.com/