Medsos dan Apatisme Orang Tua

Medsos dan Apatisme Orang Tua

Medsos dan Apatisme Orang Tua

Prabowo Mondado atau lebih viral dengan nama “Bowo Alpenliebe”

tiba-tiba ramai menjadi perbincangan publik. Dengan bermodal aplikasi Tik Tok anak ini menjadi artis dadakan. Bahkan belum lama ini dia sempat mengadakan meet and greet dengan para fans.

Aksi dan paras Bowo di video pendek Tik Tok telah membuat para kaum hawa terpesona. Ada yang menyatakan rela masuk neraka asal keperawanannya pecah oleh Bowo. Ada pula yang mengajak untuk membuat agama baru dengan Bowo sebagai tuhannya. Ngeri, melihat interaksi remaja kita di sosial media saat ini.

Agenda “jumpa fans” antara Bowo dengan para penggemarnya merupakan titik awal mencuat hujatan. Para fans mengaku bahwa Bowo tak setampan di video. Mereka kecewa berat idola yang selama ini didewakan ternyata melenceng 180 derajat dari dugaan. Alhasil, terjadilah baper besar-besaran dan kegalauan massal.

Di tempat lain tepatnya di Hong Kong, dilansir dari South China Morning Post

(29/6/2018) seorang remaja laki-laki nekat duduk di tepi jembatan hanya untuk meraup “like” sebanyak-banyaknya. Dalam video dia menuturkan “Aku menaruhkan nyawaku sendiri untuk melakukan hal ini. Maka tekanlah tombol suka (like)!”. Sungguh absurd.

Fenomena di atas adalah salah satu bukti titik lemah kaum remaja dan anak-anak dalam bermedia. Remaja dan anak-anak kita menggunakan media sosial hanya untuk “gaya-gayaan” menunjukkan keakuannya agar mereka selalu dianggap eksis. Sebuah fase di mana mereka mencari sebuah pijakan tanpa pikir ulang. Media sosial dianggap sebuah kebenaran mutlak untuk memperoleh atensi banyak orang. Ratih Ibrahim (2012) menuturkan “kemajuan teknologi berpotensi membuat anak cepat puas dengan pengetahuan yang diperolehnya, sehingga menganggap apa yang diperolehnya dari internet atau teknologi lain adalah pengetahun terlengkap dan final”.

Kembali ke Tik Tok tadi, menurut Senior vice President Bytedance Technology,

Zhen Liu, Indonesia merupakan negara dengan pengguna aktif Tik Tok mencapai 10 juta. Sebuah angka fantastis. Namun, berdasarkan laporan dan pengaduan masyarakat, menteri Komunikasi dan Informatika (Kominfo), Rudiantara pada tanggal 3 Juli akhirnya Tik Tok diblokir karena terdapat konten negatif khususnya bagi anak-anak.

Hanya selang sepekan platform asal china ini kembali aktif, sebuah keputusan yang tidak konsisten. Terlepas sudah ada perjanjian dengan pihak Tik Tok untuk menghilangkan konten negatif, bukankah aksi Bowo yang sebenarnya tak berlebihan tetap saja menimbulkan konflik. Jadi jelas, lebih banyak mudhorot (keburukan) dari pada kebaikannya.

Menyikapi kasus Bowo, setidaknya ada beberapa aspek yang bisa dikaji. Pertama, Bowo sendiri, selaku pemeran utama video Tik Tok yang diunduh ke dunia maya. Apakah tidak boleh anak remaja mengekspresikan kelebihannya dengan memanfaatkan media sosial?. Silahkan para remaja berekspresi, namun menjadi terkenal tidak hanya butuh tampang mulus dan memikat, tapi perlu ada nyali.

 

Sumber :

https://ruangseni.com/