Para Tokoh-tokoh Yang Dipenjara

Para Tokoh-tokoh Yang Dipenjara

Para Tokoh-tokoh Yang Dipenjara

Penjara selalu menjadi alat para penguasa untuk mengancam para pejuang dan para tokoh perjuangan Islam. Maka melalui uraian berikut ini, para pejuang Islam mendapat teladan yang baik dalam menyikapi hukuman penjara dari para penguasa. Tentu yang dimaksud para tokoh di sini ialah para Imam Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, yang sepantasnya mereka itu kita teladani perjuangannya karena keikhlasan mereka dalam menta’ati Syari’at Allah serta mengikuti petunjuk dan bimbingan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa aalihi wasallam. Kalau ada dari pembaca yang bertanya, mengapa yang dipilih hanya tokoh-tokoh yang dipenjara, bukankah tokoh-tokoh Ahlus Sunnah Wal Jama’ah itu banyak pula yang tidak dipenjara ? Jawabannya ialah, bahwa tulisan ini kami suguhkan kepada pembaca yang budiman adalah dalam rangka membantah pikiran sebagian orang yang menyatakan bahwa dipenjara dalam perjuangan itu adalah mafsadah (kerusakan) yang harus dihindari. Pikiran tersebut menyatakan, bahwa bila suatu perjuangan itu diperhitungkan akan menghadapi resiko dipenjara, maka perjuangan itu harus ditinggalkan. Bahkan suatu tindakan perjuangan yang berakibat dipenjaranya sang pejuang, maka tindakan tersebut dinilai salah. Tentu pikiran tersebut amat picik dan tidak pantas untuk mengatas namakan dirinya sebagai pikiran Ahlus Sunnah Wal Jama’ah yang agung. Karena, betapa banyaknya para Ulama’ Ahlus Sunnah Wal Jama’ah yang masuk penjara disebabkan oleh perjuangannya membela Sunnah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam. Dan hal itu bukanlah mafsadah dalam perjuangan, bahkan yang demikian itu adalah resiko perjuangan para Nabi dan Rasul ‘alaihimus shalaatu wassalam. Ingatlah kisah Nabi Yusuf ‘alaihis salam, ketika beliau diancam oleh istri pejabat Mesir akan dipenjarakan bila tidak mau menuruti kemauan syahwatnya, maka beliau menyatakan bahwa penjara lebih beliau sukai. Camkan kisah yang ada di dalam Al Qur’an S. Yusuf 32 – 35 berikut ini : “(artinya)Berkata istri pejabat itu : Demikian itulah sesungguhnya pria yang kalian mencela aku tentangnya, dan sesungguhnya aku berusaha untuk merayunya untuk bangkit syahwatnya. Tetapi dia menolak rayuanku. Dan sungguh, seandainya dia tetap menolak ajakanku untuk berzina, niscaya aku akan memenjarakannya, sehingga dia menjadi orang yang hina. Berkatalah Yusuf : Wahai Tuhanku, penjara itu lebih aku senangi daripada apa yang mereka serukan aku kepadanya (yakni daripada berzina –pent). Kalau Engkau tidak memalingkan aku dari rayuan mereka, niscaya aku akan cenderung kepada kemauan mereka, sehingga aku menjadi orang yang jahil. Maka Tuhanpun memenuhi permohonannya, sehingga diselamatkanlah dia dari rayuan mereka. Sesungguhnya Dia itu Maha Mendengar dan Maha Mengetahui. Kemudian mencuatlah ide pada mereka para pejabat Mesir itu untuk memenjarakannya setelah mereka melihat beberapa bukti bahwa Yusuf tidak bersalah, sehingga merekapun memenjarakannya untuk beberapa saat, agar rakyat melupakan kejadian itu”. S. Yusuf 32 – 35. Maka resiko penjara bukanlah suatu mafsadah yang harus dihindari bagi para pejuang, bila perjuangan itu memang harus ditempuh dalam menentang kemungkaran yang telah terjadi atau yang akan terjadi agar kemungkaran itu tidak berkelanjutan atau agar kemungkaran itu tidak sempat terjadi. Itulah sebabnya kami bawakan kisah-kisah perjuangan para tokoh yang dipenjara untuk menjadi teladan bagi para pejuang Islam ketika menghadapi resiko masuk penjara dalam perjuangannya atau ketika menghadapi ancaman masuk penjara karena perjuangannya. Semoga uraian ini merubah image yang salah tentang prinsip-prinsip perjuangan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. 1. Jundub bin Ka’ab Al Azadiy Al Ghamidiy Beliau adalah salah seorang Shahabat Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam waradhiyallahu ‘anhu. Terkenal dalam biografinya dengan gelar Jundub Qaatilussaahir (Jundub si pembunuh tukang sihir), karena beliau terlibat pada peristiwa pembunuhan tukang sihir di zaman pemerintahan Sayyidina Utsman bin Affan radhiyallahu anhu. Kisahnya perjuangan beliau diriwayatkan dalam beberapa kitab hadits, dan beberapa kitab biografi para perawi hadits. Dari beberapa riwayat tersebut adalah sebagai berikut : Kufah adalah salah satu kota besar dari negeri Iraq . Di sana ada seorang gubernur yang diangkat oleh Amirul Mu’minin Utsman bin Affan radhiyallahu anhu, bernama Al Walied bin Uqbah bin Abi Mu’ieth (semoga Allah meridhainya dalam amalan shalehnya dan semoga Allah memaafkannya atas segala kekhilafannya). Di suatu hari sang gubernur melakukan kekhilafan di hadapan rakyatnya. Yaitu membiarkan seorang tukang sihir memainkan atraksi sihirnya di istana gubernuran di Kufah di hadapan para tamu tuan gubernur. Tukang sihir itu bernama Abul Bustan, yang memenggal kepala seorang pria sehingga terpisah kepalanya dari badannya. Setelah itu kepala orang tersebut ditempelkan kembala ke lehernya dan orang itu hidup seperti sedia kala. Melihat kejadian itu, para penontonpun terkagum-kagum sambil mengucapkan kata-kata : Subhanallah, dia bisa menghidupkan orang yang telah mati ?! Pada waktu itu Jundub sempat menyaksikan, betapa kaum Muslimin terkagum-kagum dengan kemahiran si tukang sihir tersebut. Bahkan dipertontonkan pula di hadapan mereka, bahwa Abul Bustan si tukang sihir tersebut masuk ke mulut keledai dan keluar dari lubang anus keledai itu. Jundub amat resah dengan tontonan yang amat merusakkan aqidah kaum Muslimin itu. Dan ternyata tidak hanya Jundub yang resah dengan atraksi tukang sihir tersebut. Beberapa orang dari kaum Muslimin, ternyata satu perasaan dengannya dalam perkara tontonan itu. Maka Jundub pun cepat bertindak untuk menyelamatkan kaum Muslimin dari pengaruh jahat tontonan tersebut terhadap aqidah mereka. Dia segera mendatangi pandai besi dan mengambil pedangnya yang sedang dipertajam padanya. Setelah membayar ongkos perawatan pedang padanya, segera dia bersama teman-temannya mendatangi istana gubernuran. Kelompok Muslimin yang dikomandani oleh Jundab ini semula menyangka bahwa tukang sihir itu beratraksi di ruang tengah istana. Tetapi sesampainya mereka di sana didapati ternyata tidak terdapat seorangpun. Sehingga Jundab memerintahkan kelompoknya untuk segera menuju bagian bawah istana dan memang di sana mereka dapati gubernur Al Walid bin Uqbah bin Abi Mu’ith bersama teman-temannya sedang menyaksikan atraksi sihir tersebut. Jundub dan rombongannya tidak banyak bicara lagi, langsung menyerang si tukang sihir itu dan Jundub mengangkat pedangnya dan menebas leher si tukang sihir itu sehingga putus kepalanya dan tewas seketika di depan halayak ramai. Jundub menyatakan kepada tukang sihir yang celaka itu setelah memenggalnya : “Kalau engkau memang mampu menghidupkan orang yang telah mati, silakan engkau hidupkan dirimu sendiri sekarang juga !” dan Jundub setelah itu membaca ayat Al Qur’an S. Al Anbiya’ 3 : “Apakah kalian menerima sihir itu, padahal kalian menyaksikannya ?”. Teman-teman tuan gubernur melihat kejadian itu, langsung bubar dari majlisnya dan berlarian meninggalkan istana. Kaum Muslimin yang menonton peristiwa tersebut segera tersadar bahwa mereka sesungguhnya telah ditipu oleh si tukang sihir itu. Karena buktinya dia sekarang tidak bisa menghidupkan dirinya setelah dipenggal kepalanya oleh Jundub bin Ka’ab. Tetapi tuan gubernur Al Walid bin Uqbah marah besar dengan kejadian tersebut dan memerintahkan kepada Abdur Rahman bin Hubaisy Al Asadi sebagai kepala kepolisian daerah, untuk menangkap Jundub bin Ka’ab dan kelompoknya serta memenjarakannya. Perintah segera dilaksanakannya dan Jundub pun bersama kelompoknya meringkuk di penjara setelah itu. Tetapi mereka bernasib baik, kepala sipir penjara adalah seorang ahli ibadah yang shaleh yang terkenal namanya Dinar Abu Sinan. Maka Jundub menyatakan kepadanya : “Engkau tahu, kami masuk penjara karena membunuh tukang sihir itu. Oleh karena itu, lepaskanlah salah seorang dari kami untuk berangkat ke Al Madinah guna melaporkan kejadian ini kepada Utsman”. Maka dilepaskanlah salah seorang dari mereka dan segera berangkat menuju Madinah untuk menemui Sayyidina Utsman bin Affan radhiyallahu anhu. Gubernur Al Walid pun mendengar tindakan Abu Sinan yang membebaskan salah seorang tahanan itu. Sehingga ditangkaplah kepala sipir penjara itu dan diikat di tiang salib untuk dibunuh. Tetapi segera laporan telah sampai kepada Khalifah Utsman sehingga beliau segera mengirim surat kepada gubernur Al Walid untuk membebaskan seluruh tahanan yang terlibat dalam kasus pembunuhan tukang sihir. Tentunya tuan gubernur segera membebaskan mereka dan juga membebaskan Abu Sinan kepala sipir penjara yang hampir saja mati di tiang salib, serta mengembalikannya pada posisi jabatannya sebagai kepala sipir penjara. Karena memang dalam Syari’ah Islamiyah, hukuman bagi tukang sihir adalah dipenggal kepalanya, sehingga mati ilmu sihirnya dan tidak sempat diwariskan kepada yang lainnya. Demikianlah, kejadian yang dialami oleh Shahabat Nabi yang bernama Jundub bin Ka’ab Al Azadiy Al Ghamidiy beserta kawan-kawan yang melakukan gerakan nahi munkar (yakni mencegah kemungkaran) yang beresiko masuk penjara. Tetapi semua itu dijalaninya, dan mereka tidak memandang penjara sebagai mafsadah bila resiko gerakan mereka ialah harus masuk padanya. Kisah tersebut disari patikan dari beberapa kitab rujukan sebagai berikut : a. Al Isti’ab Fi Ma’rifatil Ashab, karya Abu Umar Yusuf bin Abdullah bin Muhammad bin Abdul Bar An Namiri Al Qurtubi, tahqiq Ali Muhammad Al Bajaawi, jilid 1 hal. 258 riwayat ke 343, Darul Jail-Beirut, cet. Pertama th. 1412 H/1992M. b. Al Mushannaf, Al Hafidl Abu Baker Abdur Razzaq bin Hammam Ash Shan’ani, tahqiq Habibur Rahman Al A’dhami, jilid 10 hal. 181 riwayat ke 18748, Al Majlisul Ilmi, tanpa tahun. c. Al Mu’jamul Kabir, Al Imam Al Hafidl Abil Qasim Sulaiman bin Ahmad At Thabrani, tahqiq Hamdi Abd. Majid As Silafi, jilid 2 hal.177 riwayat 1725, Dru Ihya’ At Turats Al Arabi, cet. ke dua. d. As Sunanul Kubra, Al Imam Abi Baker Ahmad bin Al Husain bin Ali A l Baihaqi, jilid 8 hal. 136, Darul Fiker – Beirut , tanpa tahun. e. Kitabut Tarikh Al Kabir, Al Imam Abu Abdillah Muhammad bin Isma’il Al Bukhari, jilid 2 hal. 222 riwayat 2268, Darul Fiker – Beirut , tanpa tahun. f. Usdul Ghabah Fi Ma’rifatis Shahabah, Izzuddin bin Al Atsir Abil Hasan Ali bin Muhammad Al Jazari, jilid 1 hal. 361 riwayat ke 806, Darul Fiker – Beirut , cet. th. 1409H/1989M. g. Tahdzibul Kamal Fi Asma’ir Rijal, Al Hafidl Jamluddin Abil Hajjaj Yusuf Al Mizzi, jilid 5 hal. 141 riwayat ke 975, Mu’assasatur Risalah Beirut, cet. 5 th. 1415H/1994M. h. Al Ishabah Fi Tamyizis Shahabah, Al Hafidl Abil Fadl Ahmad bin Ali bin Hajar Al Asqalani, jilid 1 hal. 250 riwayat ke 1227, Daru Shadir Beirut, cet. pertama th. 1328 H. 2. Imam Ahmad bin Muhammad bin Hanbal Asy Syaibani Dari para khalifah (kepala negara) dinasti Bani Abbasiyah, khalifah yang paling hitam sejarah masa pemerintahannya ialah khalifah Al Ma’mun bin Harun Ar Rasyid (putra khalifah Harun Ar Rasyid). Karena para Khalifah sebelum Al Ma’mun terjatuh dalam berbagai kesalahan dalam perkara hak rakyatnya, tetapi Al Ma’mun terjatuh dalam berbagai kesalahan yang menyangkut haknya Allah Ta’ala dan RasulNya dalam perkara agamaNya, disamping tentunya kesalahan dia dalam perkara yang menyangkut hak rakyatnya. Khalifah Al Ma’mun dibai’at sebagai Khalifah Abbasiyah pada awal tahun 198 H setelah berhasil memimpin pemberontakan melawan kakak kandungnya yang bernama Al Amin bin Harun Ar Rasyid yang berhasil dibunuh oleh Thahir bin Al Husain Abu Thalhah Al Khuza’ie (komandan tentaranya Al Ma’mun). Khalifah Al Ma’mun adalah seorang penguasa yang fasih berbahasa Arab dan luas pengetahuan agamanya senang membaca Al Qur’an dan menghatamkannya. Dia juga adalah penguasa yang suka memberi kepada siapa saja yang datang meminta sesuatu keperluan. Dan tentunya dia adalah seorang kepala negara yang terjun ke medan jihad fi sabilillah memimpin sendiri pasukannya di perbatasan negara. Tetapi kelemahan yang fatal padanya ialah kesenangannya duduk bercengkrama dengan para ahli ilmu kalam yang membahas pengertian agama dengan kaidah-kaidah filsafat. Dengan kesenangannya demikian itu, berubahlah majlisnya Khalifah Al Ma’mun, yang semula dipenuhi dengan pembicaraan tentang hadits-hadits Nabi shallallahu alaihi wa aalihi wasallam lengkap dengan sanadnya, maka kini majlisnya tidak lagi berbicara tentang hadits tetapi telah dipenuhi dengan penampilan para ahli debat dan pembicaraan tentang berbagai kaidah-kaidah logika. Bahkan Al Ma’mun memerintahkan agar kitab-kitab filsafat Yunani di pulau Siprus dikeluarkan daripadanya dan dibawa ke Baghdad untuk diterjemahkan dalam bahasa Arab. Maka mulailah mala petaka terjadi terhadap kaum Muslimin, ketika pada tahun 212 H Al Ma’mun sebagai penguasa memaksakan pandangannya yang sesat kepada segenap kaum Muslimin tentang Al Qur’an. Kesesatannya ialah ketika dia menyatakan bahwa Al Qur’an adalah makhluq, sebagaimana yang dikatakan oleh orang-orang Mu’tazilah. Sedangkan yang diyakini oleh kaum Muslimin sebagaimana yang diterangkan dalam Al Qur’an dan Al Hadits, bahwa Al Quran adalah Kalamullah (yakni omongan Allah Ta’ala) dan bukan makhluq. Karena Allah Ta’ala telah menamakan Al Qur’an sebagai Kalamullah dalam firmanNya di S. At Taubah 6 : “Dan bila salah seorang dari kaum Musyrikin minta perlindungan keamanan kepadamu (hai Muhammad), maka lindungilah ia sehingga dia dapat mendengar ‘Kalamullah’ (yakni mendengar ayat-ayat Al Qur’an)”. Sedangkan Kalamullah itu dengan tegas tidak dikatagorikan oleh Allah sebagai makhluqNya. Ini ditegaskan olehNya dalam firmanNya di S. Al A’raf 54 : “Bukankah bagi Allah itu al khalqu (menciptakan makhluqNya) dan Al Amru (yaitu Kalamullah yang berbunyi Kun /jadilah ketika hendak menciptakan makhluqNya, sehingga jadilah makhluq itu dengan perintahNya tersebut)”. Jadi di ayat ini Kalamullah bukanlah dalam katagori al khalqu , tetapi dalam katagori Al Amru . Yang berarti dengan tegas Kalamullah itu bukanlah makhluq. Bahkan Allah Ta’ala telah mengkafirkan Al Walid bin Al Mughirah, ketika dia mengatakan bahwa Al Qur’an itu adalah omongan manusia atau omongan makhluq dan bukan omongan manusia. Hal ini dinyatakan olehNya dalam S. Al Muddatstsir 16 – 26 : “(artinya) Tidak, sekali-kali tidakakan Aku tambah kenikmatanKu kepadanya, karena dia itu telah ingkar terhadap ayat-ayat Kami. Sungguh Aku akan membebani dia dengan adzab yang amat berat di neraka. Karena dia berfikir dan menentukan satu keputusan. Maka dia terkutuk dengan dia membikin keputusan itu. Kemudian terkutuk pula bagaimana dia membikin keputusan itu. Kemudian dia berpikir bagaimana dia menolak kebenaran Al Qur’an. Dia berpikir dengan muka masam dan dahi berkerut. Kemudian dia berpaling dari kewajiban beriman kepada Al Qur’an itu dan dia menolak kebenaran dengan sombong. Kemudian akhirnya dia menyatakan : Al Qur’an ini adalah sihir yang kuat pengaruhnya. Al Qur’an ini tidak lain adalah omongan manusia. Sungguh dengan pernyataannya ini, Aku akan lemparkan dia ke neraka Saqor”. Keyakinan kaum Muslimin seperti ini dikesampingkan begitu saja oleh Al Makmun karena pengaruh ilmu kalam dan filsafat padanya. Sehingga dia memerintahkan kepada segenap pejabat negara di seluruh wilayah negara, untuk melarang qadli atau khatib dan imam masjid serta para Ulama’ berbicara tentang agama bila mereka menolak keyakinan bahwa Al Qur’an itu makhluq. Yang boleh menduduki jabatan qadli atau mufti atau khatib dan imam masjid, hanyalah mereka yang meyakini Al Qur’an itu makhluq. Bahkan lebih dari itu, dia memerintahkan para pejabatnya untuk menyeret para Ulama’ ke tangsi-tangsi militer, guna ditanyai satu persatu pendapatnya tentang apakah Al Qur’an itu makhluq atau bukan. Al Imam Abu Ja’far Muhammad bin Jarir At Thabari meriwayatkan dalam Tarikhnya (jilid 8 hal. 631) bahwa Khalifah Al Ma’mun mengirim surat ke wali negeri Iraq bernama Ishaq bin Ibrahim. Dalam surat itu Khalifah memerintahkan kepadanya untuk seluruh Ulama’ ke tangsi militer bernama Ar Riqqah dan membacakan kepada mereka surat Khalifah ini yang berisi penjelasan darinya tentang dalil-dalil keyakinannya bahwa Al Qur’an itu adalah makhluq, lengkap dengan alasan keputusannya untuk menganggap para Ulama’ yang menolak keyakinan ini adalah sesat dan musyrik yang harus dihukum dengan hukuman seberat-beratnya. Surat tersebut dimuat dengan lengkap oleh Al Imam At Thabari dalam tarikhnya (jilid 8 hal. 631 – 637), yang menunjukkan dalam suratnya itu betapa besar pengaruh ilmu kalam dan filsafat pada diri Khalifah Al Ma’mun. Dalam suratnya itu dia menyebutkan secara khusus tujuh nama dari para Ulama’ yang harus dipanggil ke Ar Riqqah untuk dipaksa menyatakan bahwa Al Qur’an itu adalah makhluq. Tujuh orang itu ialah : Muhammad bin Sa’ad asisten Al imam Al Waqidi, Abu Muslim asisten Imam Yazid bin Harun, Yahya bin Ma’ien, Zuhair bin Harb Abu Khaitsamah, Ismail bin Dawud, Ahmad bin Ad Dauraqi. Dan mereka bertujuh itu akhirnya menyatakan bahwa Al Qur’an itu makhluq, dan segera mereka dibawa ke Baghdad untuk menyatakan demikian dihadapan khalayak ramai dan setelah itu segera mereka dibebaskan semua dari tahanan. Yahya bin Ma’ien menjelaskan mengapa ikut menyatakan bahwa Al Qur’an itu makhluq : “Kami takut dari ancaman pedang, sehingga kami menyatakan demikian”. (Siar A’lamin Nubala’, Adz Dzahabi, jilid 10 hal. 288). Dengan berhasil mendapat jawaban dari ketujuh Ulama’ seperti itu, Al Ma’mun semakin bersemangat untuk memaksakan pendapatnya yang sesat itu, dan dia selanjutnya memerintahkan Ishaq bin Ibrahim untuk memanggil Ulama’ lainnya lebih banyak lagi. Dipanggillah ke Ar Riqqah para Ulama dan Qadli, para Ahli Hadits, para Fuqohaa’ (yakni para ahli fiqih) serta Imam-Imam Masjid. Untuk gelombang kedua ini yang dipanggil dan diinterogasi adalah : Abu Hassan Az Zayyadi, Bisyir bin Al Walid Al Kindi, Ali bin Abi Muqathil, Al Fadhel bin Ghanim, Adz Dzayyal bin Al Haitsam, Sajjaadah, Al Qawaariiriy, Al Imam Ahmad bin Hanbal, Quthaibah, Sa’daweih Al Waashitiy, Ali bin Al Ja’di, Ishaq bin Abi Isra’iel, Ibnul Harsyi, Ibnu Ulayyah Al Akbar, Yahya bin Abdurrahman Al Umariy, juga Al Umariy Qadli negeri Ar Riqqah, Abu Naser At Tammar, Abu Ma’mar Al Qathi’ie, Muhammad bin Hatim bin Maimun, Muhammad bin Nuh, Ibnu Farrukhan, An Nadler bin Syumail, Ibnu Ali bin Ashim, Abul Awwam Al Bazzar, Ibnu Syuja’, Abdurrahman bin Ishaq. Semua mereka ketika dipaksa untuk menyatakan bahwa Al Qur’an itu makhluq, menolak untuk menyatakannya. Kecuali beberapa orang berikut ini yang menyatakan bahwa Al Qur’an itu makhluq; yaitu : Quthaibah, Ubaidillah bin Muhammad bin Al Hasan, Ibnu Ulayyah Al Akbar, Ibnul Bakka’, Abdul Mun’im bin Idris, Al Mudzaffar bin Murajja’, Al Umariy Qadli negeri Ar Riqqah, dan Ibnul Ahmar.

Sumber : https://abovethefraymag.com/