PENGERTIAN AL-BID’AH

Table of Contents

PENGERTIAN AL-BID’AH

PENGERTIAN AL-BID’AH

Prinsip keyakinan bahwa Islam telah sempurna dan tidak memerlukan tambahan kapan pun dan dimana pun, menolak adanya penambahan dan pengurangan dari selain apa yang telah diajarkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Penambahan dan pengurangan yang demikian itu dalam agama dinamakan al-bid’ah. Dalam hal ini kita perlu menelaah lebih rinci lagi pengertian al-bid’ah itu agar kita memandang dan menyikapinya dengan benar. Untuk itu, kita bahas definisi al-bid’ah dari sabda Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wa alihi wa sallam dan dari keterangan para Ulama’ Salafus Shalih ridlwanullahi `alaihim ajma’in. Rasulullah shallallahu `alaihi wa alihi wa sallam bersabda:

“Dan hati-hatilah kalian dari perkara baru dalam agama. Karena segala perkara yang baru dalam agama itu adalah bid’ah dan segala yang bid’ah itu adalah sesat.” (HR. An-Nasa’i dan At-Tirmidzi dan Tirmidzi mengatakan: hadits hasan shahih)

Mu’adz bin Jabal radliyallahu `anhu menasehatkan:

“Waspadalah kalian dari perbuatan bid’ah yang telah dibikin, karena bid’ah yang manapun itu pasti sesat.” (Riwayat Ibnu Batthah Al-Ukbari dalam Al-Ibanah Al-Kubra jilid 1 riwayat ke 204 halaman 339).

Juga Abdullah bin Umar bin Al-Khattab radliyallahu `anhuma telah menasehatkan:

“Semua bid’ah itu sesat, walaupun banyak orang menilainya baik.” (Riwayat Ibnu Batthah Al-Ukbari dalam kitab yang sama jilid 1 halaman 339 no hadits 205 dari jalan Nafi’ dari Ibnu Umar radliyallahu `anhum).

Demikian pula Abdullah bin Abbas radliyallahu `anhuma menasehatkan:

“Wajib kamu beristiqamah (di atas ajaran Nabi shallallahu `alaihi wa sallam) dan mengikuti tuntunan atsar (yakni keterangan para Shahabat Nabi, pent), dan hati-hati kalian dari perbuatan bid’ah.” (HR. Ibnu Bathah dalam Al-Ibanah jilid 1 halaman 340 no hadits 206 dari jalan Utsman bin Hadlari Al-Azadi dari Ibnu Abbas radliyallahu `anhu)

Umar bin Abdul Aziz rahimahullah menerangkan:

“Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam telah mengajarkan tuntunan berIslam dan juga para penguasa sepeninggal beliau (yakni para Khulafa’ Ar-Rasyidin, pent) telah pula mengajarkannya. Berpegang dengan segenap ajaran itu adalah berarti membenarkan Kitabullah (yakni Al-Qur’an) dan berarti pula menyempurnakan ketaatan kepada Allah serta menjadi kekuatan dalam berpegang dengan agama Allah. Barangsiapa yang mencari petunjuk dengan tuntunan itu, maka sungguh dia akan mendapatkan petunjuk. Dan barangsiapa yang mencari kemenangan dengan tetap berpegang dengan tuntunan tersebut, maka sungguh dia akan dimenangkan oleh Allah. Tetapi barangsiapa yang menyelisihi berbagai tuntunan itu, dan mengikuti jalan beragama selain jalan kaum Mukminin (yakni kaum Mukminin dari kalangan para Shahabat Nabi shallallahu `alaihi wa sallam, pent) maka Allah akan sesatkan dia kepada jalan kesesatan yang ditempuhnya dan akhirnya nanti akan dikembalikan dia ke neraka jahannam sebagai tempat kembali yang paling jelek.” (Riwayat Ibnu Batthah Al-Ukbari dalam kitab yang sama halaman jilid 1 halaman 352 riwayat ke 231 dari Umar bin Abdul Aziz)

Demikianlah pengertian bid’ah itu, yang bila kita ambil kesimpulan dari berbagai keterangan tersebut, maka kriteria bid’ah itu adalah:
1). Ajaran agama yang baru sepeninggal Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wa sallam dan sepeninggal para Shahabat beliau. Yakni ajaran agama yang tidak pernah dikenal oleh Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam dan tidak pernah dikenal pula oleh para Shahabat beliau. Atau dengan kata lain, ajaran agama yang tidak merujuk kepada ajaran beliau dan tidak pula merujuk kepada keterangan para Shahabat beliau.
2). Ajaran agama yang bertentangan dengan apa yang pernah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam dan bertentangan pula dengan apa yang pernah diterangkan oleh para Shahabat beliau.
3). Semua kebid’ahan itu sesat. Dan anggapan baik kebanyakan orang, tidaklah merubah kedudukan bid’ah itu sebagai amalan yang sesat.
4). Orang yang berbuat bid’ah, bila tidak bertaubat daripadanya sehingga mati di atas kebid’ahan itu, niscaya tempat kembalinya di neraka. Dan amalan agamanya yang disertai perbuatan bid’ah itu, sia-sia dan tertolak di sisi Allah Ta`ala.

Baca Juga :