Pengertian Perkawinan, Kedudukan & Tujuan

Pengertian Perkawinan, Kedudukan & Tujuan

Pengertian Perkawinan, Kedudukan & Tujuan

  1. Pengertian Perkawinan

Perkawinan atau nikah menurut bahasa ialah berkumpul dan bercampur. Menurut istilah ialah ijab dan qabul (‘aqad) yang menghalalkan persetubuhan antara lelaki dan perempuan yang diucapkan oleh kata-kata yang menunjukkan nikah, menurut peraturan yang ditentukan oleh Islam. Persoalan perkawinan adalah persoalan yang selalu aktual dan selalu menarik untuk dibicarakan, karena persoalan ini bukan hanya menyangkut tabiat dan hajat hidup manusia yang asasi saja tetapi juga menyentuh suatu lembaga yang luhur dan sentral yaitu rumah tangga. Luhur, karena lembaga ini merupakan benteng bagi pertahanan martabat manusia dan nilai-nilai akhlak yang luhur dan sentral. Perkawinan bukanlah persoalan kecil dan sepele, tapi merupakan persoalan penting dan besar. Akad nikah (perkawinan) adalah sebagai suatu perjanjian yang kokoh dan suci.

Islam telah menjadikan ikatan perkawinan yang sah berdasarkan al-Qur’an dan as-Sunnah sebagai satu-satunya sarana untuk memenuhi tuntutan naluri manusia yang sangat asasi, dan sarana untuk membina keluarga yang Islami. Penghargaan Islam terhadap ikatan perkawinan besar sekali, sampai-sampai ikatan itu ditetapkan sebanding dengan separuh agama. Anas bin Malik ra, berkata : “Telah bersabda Rasulullah Saw yang artinya: “Barangsiapa menikah, maka ia telah melengkapi separuh dari agamanya. Dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dalam memelihara yang separuhnya lagi”.

  1. Kedudukan Perkawinan Dalam Islam

  2. Wajib kepada orang yang mempunyai nafsu yang kuat sehingga bisa menjerumuskannya ke lembah maksiat (zina dan sebagainya) dan orang tersebut juga mampu membayar mahar (mas kawin) dan mampu menafkahi calon isterinya.
  3. Sunat kepada orang yang mampu tetapi dapat menahan nafsunya.
  4. Makruh kepada orang yang tidak berkemampuan dari segi nafkah batin dan lahir tetapi tidak memberi kemudaratan kepada isteri.
  5. Haram bagi orang yang tidak mampu untuk memberi nafkah batin dan lahir dan ia sendiri tidak berkuasa (lemah) dan tidak punya keinginan menikah sehingga kalau dipaksakan akan berdampak negatif (penganiayaan) terhadap isterinya.
  1. Tujuan Perkawinan Dalam Islam

  2. Untuk memenuhi tuntutan naluri manusia yang asasi.
  3. Untuk membentengi ahlak yang luhur
  4. Untuk menegakkan rumah tangga yang Islami.
  5. Untuk meningkatkan ibadah kepada Allah.
  6. Untuk mencari keturunan yang shalih

Baca Artikel Lainnya: