Sisi yang Lain

Sisi yang Lain

Sisi yang Lain

 

Dulu ketika aku masih anak-anak

aku terlibat dalam perdebatan sengit dengan seorang anak lelaki teman sekelasku. Aku yakin sekali bahwa akulah yang benar, sedangkan ia salah. Begitu juga sebaliknya, ia yakin kalau dialah yang benar dan aku yang salah.
Melihat hal itu, maka guru kami memanggil kami  berdua untuk maju ke depan kelas. Aku diperintahkan berdiri di satu sisi meja, sementara anak itu di sisi yang lainnya. Di tengah meja tersebut ada suatu obyek besar berwarna hitam dan berbentuk bundar.

Lalu guru kami bertanya pada anak itu

apa warna benda tersebut. “Putih”, sahut anak itu. Aku tak percaya mendengarnya, sebab benda tersebut jelas-jelas hitam di mataku. Kami kembali berdebat dengan sengit tentang warna benda tersebut.
Guru lalu menyuruh kami untuk bertukar tempat dan lalu bertanya kepadaku, apa warna benda itu? Kini aku terpaksa menjawab, “Putih”, sebab benda tersebut ternyata mempunyai dua sisi yang berbeda warna. Dari sudut ini, warna yang kelihatan adalah putih, sedangkan dari sisi yang lain adalah hitam.

Kawan, Kisah ini mengajarkan kepada kita

tentang bagai mana menyikapi pendapat dan penilaian orang lain. Dalam menilai sesuatu, kita haru bisa menempatkan diri pada posisi mereka dan melihat situasinya melalui apa yang mereka lihat, agar kita bisa benar-benar memahami perspektif yang mereka lihat.

Baca Juga :